Pendidikan

Sukseskan Kalimantan Timur CEMERLANG 2013

Evaluasi dan Kebudayaan Belajar

Posted by henypratiwi pada 22 Juni 2009

Evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan.

Pendidikan merupakan proses pembudayaan, dan pendidikan juga dipandang sebagai alat untuk perubahan budaya. Proses pembelajaran di sekolah merupakan proses pembudayaan yang formal  atau proses akulturasi.

Budaya, merupakan “a complex whole which includes knowledge, belief, art, law, morals, customs, and any other capabilities and habits acquired by man as a member of society”.

Sementara itu, ada lagi definisi yang menyatakan bahwa budaya adalah pola utuh perilaku manusia dan produk yang dihasilkannya yang membawa pola pikir, pola lisan, pola aksi, dan artifak, dan sangat tergantung pada kemampuan seseorang untuk belajar, untuk menyampaikan pengetahuannya kepada generasi berikutnya melalui beragam alat, bahasa, dan pola nalar. Kedua definisi tersebut menyatakan bahwa budaya merupakan suatu kesatuan utuh yang menyeluruh, bahwa budaya memiliki beragam aspek dan perwujudan, serta budaya dipahami melalui suatu proses belajar.

Sifat-sifat Budaya Belajar adalah dimiliki bersama, cenderung bertahan dan berubah, berfungsi untuk pemenuhan kebutuhan manusia, diperoleh melalui proses belajar.

Ada tiga cara manusia mendapatkan pengetahuan belajarnya yang diperoleh dari penyesuaian diri dengan lingkungannya, yakni :

a) melalui serangkaian pengalaman hidupnya tentang kehidupan yang dirasakan, baik pengalaman dalam lingkungan alam ataupun sosial. Pengalam individu atau kelompok sosial menjadi pedoman dalam pengetahauan pembelajaran yang penting.

b)   melalui berbagai pengajaran yang diperolehnya baik melalui pembelajaran dirumah, masyarakat maupun pendidikan di sekolah.

c) pengetahuan juga diperoleh melalui petunjuk-petunjuk yang bersifat simbolik yang sering juga disebut sebagai komunikasi simbolik.

Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya kepentingan nilai belajar adalah pengalaman dan orientasi budaya dimasa depan. Nilai budaya belajar juga akan berkaitan dengan jenis materi belajar apa yang dipandang penting oleh suatu masyarakat. Dengan demikian dapatlah disimpulkan, sebagaimana sistem pengetahuan budaya belajar, maka dalam nilai budaya belajar juga mengalami perkembangan.

Pemanfaatan multimedia bagi kepentingan pembelajaran sudah diterapkan dalam berbagai bentuk. Penerapan yang paling umum dilakukan adalah penggunaan multimedia untuk membuat materi pengajaran, penyampaian bahan ajar maupun komunikasi dengan siswa. Sebagai contoh dari resource-based learning yang menggunakan teknologi inovatif pasti memiliki dampak pembelajaran yang jauh lebih baik daripada cara menyampaikan pembelajaran secara konvensional atau “naratif”  yaitu metode bercerita. Saat ini sumber-sumber multimedia pembelajaran bagi para murid banyak tersedia di internet atau melalui vcd/cd, pertanyaannya bagaimana cara para guru mengajar?

Ini adalah salah satu contoh tantangan bagi para guru untuk mendiskusikan bagaimana para murid belajar menggunakan teknologi yang “old” and “new”, serta apa dampaknya bagi pembelajaran?

Implikasi Untuk Evaluasi

Kebutuhan akan akan evaluasi ini biasanya dapat diterima kalau pada dasarnya ada suatu metode baru, maka hasilnya harus didokumentasikan dan dinilai. Lebih jauh lagi, sejak para siswa belajar secara mandiri, evaluasi akan diperlukan untuk mengetahui apa sebenanya “input” yang diberikan. Seberapa banyak teks atau program yang sudah dibaca? Berapa banyak waktu yang diperlukan untuk belajar?

Pada bagian teknologi seperti konferensi komputer, interaksi pada kursus/pelatihan dapat disimpan dalam berkas yang dapat menampilkan dokumentasi kursus seperti apa untuk murid-murid yang begitu beragam.

Apakah hanya sampai disitu? Tentu tidak… Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi bagi kepentingan pembelajaran sudah diterapkan dalam berbagai bentuk. Penerapan yang paling umum dilakukan adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk membuat materi pengajaran, penyampaian bahan ajar maupun komunikasi dengan siswa, salah satunya adalah melalui Distance learning .

Belajar berbasis Aneka Sumber (BEBAS), apakah gerangan dia itu sebenarnya? BEBAS atau aslinya dikenal dengan istilah Resources-based Learning merupakan salah satu strategi penerapan pradigma konstruktifism. Dalam paradigma pendidikan tradisional, guru dianggap sebagai satu-satunya sumber belajar. Dalam paradigma pendidikan modern, tidak lagi demikian. Siswa dapat belajar dari berbagai sumber lain tidak hanya guru.

Apalagi dalam era informasi saat ini, informasi tersedia dimana-mana dalam berbagai bentuk dan jenis mulai dari bentuk cetak, non-cetak, bahkan sumber belajar dari manusia itu sendiri. Siswa atau mahasiswa dari universitas XYZ katakanlah dapat belajar tentang konsep teknologi pendidikan dengan saya yang bukan dosen di universitas tersebut via internet (chatting, email, dll). Masalahnya adalah bagaimana seorang guru atau dosen dapat mengemas aneka sumber belajar itu menjadi suatu bagian yang terintegrasi dari strategi pembelajaran yang dia lakukan. Menantang, dan menuntut kreatifitas dan persiapan yang matang tentunya.

Coba kita lihat salah satu definisinya :

Resource-Based Learning is the instructional strategy where students construct meaning through interaction with a wide range of print, non-print and human resources. (http://www.centralischool.ca/~bestpractice/resource/index.html)

Secara gamblang dikatakan bahwa BEBAS adalah strategi pembelajaran dimana siswa membangun pemahamannya melalui interaksi dengan berbagai sumber belajar baik cetak, non-cetak, maupun orang.

BEBAS lebih berpusat pada siswa (student-centered learning) yang memungkinkan siswa dapat menemukan dan membangun pengetahuannya sendiri, dimana guru lebih berperan sebagai fasilitator dan manajer pembelajaran.

Berikut adalah keuntungan dari BEBAS:

  • BEBAS mengakomodasi perbedaan individu baik dalam hal gaya belajar, kemampuan, kebutuhan, minat, dan pengetahuan awal mereka. Dengan demikian, siswa dapat belajar sesuai dengan kecepatannya masing-masing. Sumber belajar dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa.
  • BEBAS mendorong pengembangan kemampuan memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan keterampilan mengevaluasi.   Jadi, BEBAS memungkinkan siswa menjadi kreatif dan memiliki ide-ide orisinal.
  • Terakhir. Dengan BEBAS, siswa akan belajar bagaimana belajar. Sekali ia melek informasi, ia akan mengembangkan sikap positif dan keterampilan yang sangat berguna bagi dirinya dalam era informasi yang sedang dan akan dihadapinya kelak. Jadi, pada akhirnya BEBAS dapat membekali keterampilan hidup bagi siswa.

Kurikulum dan Nilai-Nilai :

Seiring dengan tuntutan kebutuhan dan perkembangan zaman, dunia pendidikan juga mengalami perkembangan. Perkembangan yang dimaksud adalah sebuah pendekatan baru dalam dunia pendidikan yang menerapkan sistem Pendidikan Jarak Jauh (Distance Education). Pendidikan Jarak jauh dianggap sebagai salah satu sistem pemberian layanan pendidikan yang sifatnya innovatif. Ciri khas utamanya adalah adanya keterpisahan antara pendidik dengan peserta didik. Dalam pendidikan jarak jauh peserta didik/siswa/mahasiswa tidak diharuskan setiap harinya datang ke sekolah/kampus untuk bertemu guru/dosen guna mendengarkan pelajaran atau kuliah. Dalam pendidikan jarak jauh kehadiran pendidik dapat diwakili oleh media. Media apa? tentu media pembelajaran, dimana melalui media tersebut, peserta didik dapat mempelajari ataupun keterampilan secara mandiri. Media yang digunakan dalam sistem belajar jarak-jauh (baik yang bersifat cetak maupun non cetak) telah disusun sedemikian rupa sehingga dapat dipelajari secara mandiri dengan sesedikit mungkin memperoleh bantuan.

Distance learning adalah suatu sistem pembelajaran dimana antara pemelajar dengan guru/tutor atau dosen terpisah oleh jarak. Karena terpisah oleh jarak, maka salah satu konsekuensi dari Distance learning adalah harus memanfaatkan teknologi komunikasi jarak jauh (telekomunikasi) sebagai sarana untuk menjembatani komunikasi karena kendala keterpisahan jarak tersebut.

Distance learning, yaitu mekanisme penyampaian instructional yang tidak mengharuskan siswa untuk hadir secara fisik pada tempat yang sama dengan pengajar.  (Ornager, UNESCO, 2003)

Evaluasi dari pembelajaran dan Lingkungan Pembelajaran
Pengujian Pengembangan

Pembelajaran Berbasis Sumber Daya dan aplikasi dari teknologi baru membuat suatu produk baru dan bentuk-bentuknya adalah teks yang tercetak (printed-text), kaset, CD, Video atau kombinasi semuanya. Jika kita ingin menemukan bagaimana sumber-sumber ini digunakan dan kenapa digunakan, maka diperlukan informasi secara kualitatif mengenai pengalaman murid dan perspektifnya. Termasuk didalamnya adalah Pengembangan Pusat Sumber Belajar Di Sekolah. Lembaga yang mempunyai tugas untuk mengembangkan dan mengelola berbagai sumber belajar yang secara mutlak diperlukan untuk penyelenggaraan kegiatan belajar dan pembelajaran tersebut adalah Pusat Sumber Belajar.

Sebagai suatu lembaga atau unit yang tugasnya mengembangkan dan mengelola sumber belajar dalam rangka memberikan kemudahan bagi penyelenggaraan kegiatan pembelajaran, maka dari enam macam sumber belajar yang sudah dijelaskan di atas hanya ada dua jenis sumber belajar yang perlu dikembangkan dan dikelola oleh Pusat Sumber Belajar yaitu bahan (material) dan alat (device).

Yang termasuk sumber belajar bahan adalah “printed materials” seperti buku, atlas, ensiklopedia, kamus, modul, bahan pembelajaran terprogram (programmed instruction), dan sebagainya, program proyeksi (projected materials), baik bergerak maupun tidak bergerak seperti program slide suara, program film, program transparansi, dan sebagainya, dan bahan belajar elektronik seperti misalnya seperti program video, VCD, program audio, program pembelajaran berbasis komputer (computer assisted instruction).

Yang termasuk sumber belajar “alat (device)” adalah alat-alat yang digunakan untuk menyajikan bahan seperti misalnya proyektor slide, proyektor film, proyektor transparansi (OHP), video recorder, tape recorder. dan sebagainya.

Bahan-bahan (sumber belajar) yang akan dikembangkan dan dikelola oleh Pusat Sumber Belajar digunakan untuk memberikan kemudahan bagi proses belajar dan pembelajaran. Bahan-bahan ini dapat dibedakan dalam dua macam yaitu (1) sumber belajar yang dirancang (Learning Resource by design) dan (2) sumber belajar yang dimanfaatkan (Learning Resource by utilization).

Studi Kualitatif Mendalam Pada Pembelajaran

Analisis kualitatif adalah aktivitas intensif yang memerlukan pengertian yang mendalam, kecerdikan, kreativitas, kepekaan konseptual, dan pekerjaan berat.

Analisa kualitatif tidak berproses dalam suatu pertunjukan linier dan lebih sulit dan kompleks dibanding analisis kuantitatif sebab tidak diformulasi dan distandardisasi.

Proses Analisa dari data kualitatif secara khas adalah satu proses yang interaktif dan aktif. Peneliti-peneliti kualitatif sering membaca data naratif mereka berulang-ulang dalam mencari arti dan pemahaman-pemahaman lebih dalam. Morse dan Field (1995) mencatat bahwa analisis kualitatif adalah proses tentang pencocokan data bersama-sama, bagaimana membuat yang samar menjadi nyata, menghubungkan akibat dengan sebab. Yang merupakan suatu proses verifikasi dan dugaan, koreksi dan modifikasi, usul dan pertahanan.
Beberapa kaum intelektual memainkan peran dalam analisis kualitatif.

Morse dan Field (1995) mengenali empat proses-proses:

1.   Memahami Awal proses analitik, peneliti-peneliti kualitatif berusaha untuk bisa mempertimbangkan data dan belajar mencari ”apa yang terjadi.”   Bila pemahaman dicapai, peneliti bisa menyiapkan cara deskripsi peristiwa, dan data baru tidak ditambahkan dalam uraian. Dengan kata lain, pemahaman diselesaikan bila kejenuhan telah dicapai.

2.  Sintesis meliputi penyaringan data dan menyatukannya. `Pada langkah ini, peneliti mendapatkan pengertian dari apa yang “khas” mengenai suatu peristiwa dan apa variasi dan cakupannya. Pada akhir proses sintesis, peneliti dapat mulai membuat pernyataan umum tentang peristiwa mengenai peserta studi.

3.   Teoritis meliputi sistem pemilihan data. Selama proses teori, peneliti mengembangkan penjelasan alternatif dari peristiwa dan kemudian menjaga penjelasan ini sampai menentukan apakah “cocok” dengan data. Proses teoritis dilanjutkan untuk dikembangkan sampai yang terbaik  dan penjelasan paling hemat diperoleh.

4.   Rekontekstualisasi
Proses dari recontextualisasi meliputi pengembangan teori lebih lanjut dan aplikabilitas untuk kelompok lain yang diselidiki. Di dalam pemeriksaan terakhir pengembangan teori, adalah teori harus generalisasi dan sesuai konteks.

Peer Evaluation

Validasi sejawat (‘peer review atau peer evaluation’)  bertujuan untuk menilik kesyahihan Evaluasi-Diri dan sekaligus memberi komentar dan saran terhadap rencana pengembangan yang dilandasi oleh evaluasi-diri.

Di beberapa negara validasi sejawat dan atau indikator kinerja tertentu merupakan piranti untuk melakukan perbandingan antar perguruan tinggi, untuk memperoleh semacam peringkat antar perguruan tinggi, untuk memperoleh semacam pengelompokkan perguruan tinggi berdasar tingkat perkembangan dan atau kualitas kinerja.

Cohen dan McKeachie (1980) mengidentifikasi sepuluh aspek mengajar rekan-rekan yang sangat kompeten untuk mengevaluasi tentang pengajaran. Artikel pada rekan pengajaran evaluasi menyarankan agar seluruh aspek ini dapat digunakan selama proses peer review :

  • Penguasaan Konten,
  • Seleksi Konten,
  • Kesesuaian Tujuan,
  • Kesesuaian dari materi instruksional (yakni pembacaan, media),
  • Kesesuaian dari perangkat evaluatif (misalnya, ujian, tugas tertulis),
  • Kesesuaian metode yang digunakan untuk mengajar konten spesifik,
  • Komitmen untuk mengajar dan memberikan perhatian untuk pembelajaran siswa,
  • Siswa berprestasi, berdasarkan kinerja ujian dan proyek,
  • Mendukung upaya Departemen instruksional.

Proses pengamatan melibatkan fakultas rekan sesama pengajar yang meninjau kinerja kelas melalui pengamatan dan ujian instruksional dari bahan dan desain saja.

ada beberapa petunjuk dasar agar bisa  adil dan efektif dalam peer evaluation, yaitu :

  1. Individu harus tahu mereka akan [jadi] mengevaluasi dan oleh siapa.
  2. Individu harus mengetahui kemampuan orang yang dievaluasi .
  3. Penilaian akan [menjadi] berdasarkan di hasil, tidak usaha atau tujuan baik,  tetapi faktor bagian luar yang bertentangan dengan hasil positif potensial harus dianggap.
  4. Individu harus mengevaluasi berdasarkan penampilan mereka saat penugasan mereka
  5. Ketiadaan peluang, kepentingan atau tantangan permasalahan dalam pimpinan, tidak sendiri.
  6. Jujur dan sederhana.
  7. Evaluasi harus obyektif, tidak memandang hubungan pribadi dan tidak memilih.
  8. evaluasi harus menyoroti kekuatan sebaik kelemahan.

Evaluasi Dalam Skala Besar Pada Penggunaan Bahan Pembelajaran.

Desain Instruksional telah mengirimkan beberapa prinsip yang dapat diaplikasikan kepada produksi dari bahan belajar dengan hasil-hasil yang dapat diprediksikan bagi pembelajaran murid. Winn (1990), juga beragumentasi bahwa kita tidak seharusnya melihat aturan-aturan dari form ini tapi, kembali pada teori pembelajaran yang dapat digunakan untuk menghasilkan solusi yang tepat kepada tujuan pendidikan yang lebih spesifik.

Dalam sains dan metode ilmiah, empiris berarti suatu keadaan yang bergantung pada bukti atau konsekuensi yang teramati oleh indera. Data empiris berarti data yang dihasilkan dari percobaan atau pengamatan.

Dalam statistika, kuantitas “empiris” berarti nilai-nilai yang berasal dari pengamatan atau percobaan. Nilai ini berlawanan arti dengan kuantitas “teoretis” yang diturunkan dari analisis teoretis.

Data empiris juga sangat penting untuk mengetahui siapa murid-murid kita, mengetahui pilihan-pilihan mereka sebelumnya, kita mengetahui bahwa murid-murid sekarang tergantung umurnya, apa yang mereka ketahui dan apa yang dapat mereka lakukan, apa yang mereka inginkan dari pembelajaran di universitas dan kombinasi modul apa yang mereka pilih. Perubahan bahan belajar akan memberikan konseptualisasi pembelajaran dan dalam orientasi personal seperti kepercayaan diri dan alasan-alasan untuk belajar. (Beaty and Morgan, 1992 ;  Morgan, 1993). Perubahan ini akan diperlihatkan untuk mengetahui pengaru bagaimana murid menggunakan bahan belajar, sama berpengaruhnya dengan hasil pembelajaran mereka.

Kesimpulan :

Judul dari bab ini membawa suatu gagasan tentang budaya pembelajaran/budaya belajar dan telah dieksplorasi hubungan keduanya antara belajar yang dilakukan siswa dengan pembelajaran yang diperlukan oleh guru jika mereka menemukan penemuan evaluasi secara produktif. Evaluasi bukan proses mekanis, ini perlu dipersiapkan untuk mereview kebenaran-kebenaran dan sudut pandang yang sesuai.

Diperlukan Evaluasi dari pembelajaran dan lingkungan belajar yang terdiri dari uji pengembangan agar kita mengetahui setelah kegiatan budaya belajar itu dilaksanakan maka bagaimana uji pengembangannya apakah budaya belajar dengan teknologi baru sudah sesuai atau tidak dengan kepentingan belajar peserta didik, kemudian dilakukan studi kualitatif mendalam pada pembelajaran. Selanjutnya, untuk menguji budaya belajar yang telah diterapkan dilakukan peer evaluation atau evaluasi teman sejawat/ teman sebaya agar dapat menilai hasilnya secara lebih objektif.

Evaluasi dalam skala besar pada penggunaan bahan belajar terkadang diperlukan untuk memberikan perubahan yang signifikan terhadap kepentingan pendidikan, fokus dari evaluasi ini biasanya didapat dari umpan balik populasi yang mendapatkan evaluasi. Data empiris merupakan data yang cukup penting untuk mengetahui siapa murid-murid yang kita ajar dan mengetahui kombinasi pembelajaran seperti apa yang mereka inginkan. Apalagi persepsi terhadap suatu bahan belajar bisa berbeda-beda, ada yang menganggap sulit, ada pula yang tidak. Hal ini membuat kita harus dapat membuat suatu bahan belajar yang dapat dimengerti oleh semua siswa dan dapat menarik minat belajar mereka.

Evaluasi dan Budaya Pembelajaran ini diharapkan dapat membawa dampak yang lebih baik bagi Pendidikan kita. Budaya Belajar dari ”old” ke ”new”  teknologi akan membawa para murid untuk tidak bertumpu pada satu sumber belajar dan melalui cara-cara yang konvensional saja, tapi para siswa (dan juga guru) dapat memanfaatkan sumber-sumber belajar (online atau tidak) baik melalui internet, buku dan sebagainya untuk kemajuan pendidikan di negara kita.

3 Tanggapan to “Evaluasi dan Kebudayaan Belajar”

  1. yani said

    Salam kenal, bisa bantu saya mengenai keterampilan yang digunakan dalam belajar, yang merupakan tugas dari dosen dengan mata ajar psikologi pendidikan. terima kasih atas bantuannya.

  2. tulisan yang sangat bagus, kritis dan membangun…. trim’s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: