Pendidikan

Sukseskan Kalimantan Timur CEMERLANG 2013

Behaviorisme

Posted by henypratiwi pada 1 Maret 2010

Behaviorisme muncul sebagai kritik lebih lanjut dari strukturalisme Wundt. Meskipun didasari pandangan dan studi ilmiah dari Rusia, aliran ini berkembang di AS, merupakan lanjutan dari fungsionalisme.

Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek studi dari psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata. Dengan demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalism. Berarti juga behaviorisme sudah melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada proses-proses mental.

Meskipun pandangan Behaviorisme sekilas tampak radikal dan mengubah pemahaman tentang psikologi secara drastis, Brennan (1991) memandang munculnya Behaviorisme lebih sebagai perubahan evolusioner daripada revolusioner. Dasar-dasar pemikiran Behaviorisme sudah ditemui berabad-abad sebelumnya.

PEMIKIRAN PENDAHULU

1. Para pemikir bidang filsafat

  • Pemikiran para filsuf masa Yunani kuno kelompok orientasi biologis yang berusaha menjelaskan aktivitas manusia dalam bentuk reaksi mekanistis dari proses-proses biologis, misalnya Hippocrates.
  • pandangan John Locke yang menekankan pada lingkungan sebagai penentu perilaku manusia, jiwa dianggap pasif.
  • pandangan empirisme dan asosiasionisme sangat mewarnai behaviorisme. Adaptasi manusia terhadap lingkungan dilakukan melalui proses belajar yang berusaha dijelaskan secara empirik dan menggunakan proses asosiasi.

2. Bidang reflexologi

  • Riset-riset di bidang reflexologi di Rusia, adalah pengaruh yang relatif dekat pada behaviorisme dibanding pandangan-pandangan di atas. Reflexologi bertujuan menggali dasar fisiologis dari proses-proses behavioral. Mereka melakukan ini bukan dlm konteks pengembangan ilmu psikologi, karena para ahli ini sebenarnya adalah ahli fisiologis. Jadi aspek psikologis sudah dengan sendirinya tercakup dalam riset fisiologis mereka.
  • Tokoh penting reflexologi Rusia : Ivan Petrovich Pavlov. Seorang yang berlatar pendidikan fisiologi hewan dari Universitas St. Petersburg (lulus 1875), juga memiliki latar belakang kedokteran. Pernah menempuh pendidikan di Jerman dan memperoleh gelar profesor di bidang farmakologi dan fisiologis. Riset-risetnya tentang proses fisiologis dalam sistem pencernaan mengantarkannya memperoleh Hadiah Nobel pada tahun 1904. Pavlov sendiri selalu menolak disebut sbg. psikolog dan lebih suka dikenal sebagai seorang ahli fisiologis karena menurutnya bidang psikologi adalah bidang yang terlalu abstrak dan spekulatif dibandingkan dengan fisiologis yang lebih empirik. Ia bahkan selalu merasa skeptik dgn psikologi
  • Dalam bidang psikologi, Pavlov dikenal karena penemuannya dalam proses kondisioning. Penemuan ini diperoleh melalui riset dengan anjingnya, secara tidak direncanakan. Bahkan di awalnya Pavlov agak ragu untuk meneruskannya karena arahnya dianggap terlalu ‘psikologis’ dan berarti abstrak. Namun ia memtuskan utk meneruskannya karena karakteristik percobaan ini lebih bersifat fisiologis.

3. Teori assosiasionisme modern

  • Tokoh utama : Edward Lee Thorndike (1874-1949).
  • Ia membaca buku James (Principles of Psychology) sebagai mahasiswa psikologi tahun pertama di Wesleylan University dan belajar pada James sendiri di Harvard dalam bidang animal learning. Eksperimen-eksperimen Thorndike dengan binatang sangat didukung James selama ia di Harvard. Kemudian ia datang ke Columbia atas undangan James Mc. Keen Cattell dan melanjutkan eksperimennya. Setelah meraih gelar Ph.D, ia tertarik di bidang sosial dan pendidikan, lalu mengajar di Teachers’ College, Columbia University, hingga masa pensiunnya di 1949.
  • Thorndike mengembangkan teori asosiasionisme yang sangat sistematis, dan salah satu teori belajar yang paling sistematis. Ia membawa ide-ide asosiasi para filsuf ke dalam level yang empiris dengan melakukn eksperimen terhadap ide-ide filosofis tersebut. Thorndike juga mengakui pentingnya konsep reinforcement dan reward serta menuliskan teorinya tentang ini dalam ‘law of effect’ tahun 1898 (bandingkan dengan Pavlov yang baru menuliskan idenya tentang reinforcement pada 1902).

Pandangan Thorndike:

  • Definisi Psikologi :…the study of stimulus-response connections or bonds… Thorndike sangat mementingkan connections. Connections dapat terbentuk secara sambung menyambung dalam urutan yang panjang. Sebuah connections yang tadinya response bisa menjadi stimulus. Di sinilah tampak peran asosiasi yang membentuk connections.
  • Teori utama Thorndike :

a. Fenomena belajar :

  • Trial and error learning
  • Transfer of learning

b. Hukum-hukum belajar :

  • Law of Readiness : adanya kematangan fisiologis untuk proses belajar tertentu, misalnya kesiapan belajar membaca. Isi teori ini sangat berorientasi pada fisiologis
  • Law of Exercise : jumlah exercise (yang dapat berupa penggunaan atau praktek) dapat memperkuat ikatan S-R. Contoh : mengulang, menghafal, dan lain sebagainya. Belakangan teori ini dilengkapi dengan adanya unsur effect belajar sehingga hanya pengulangan semata tidak lagi berpengaruh.
  • Law of Effect : menguat atau melemahnya sebuah connection dapat dipengaruhi oleh konsekuensi dari connection tersebut. Konsekuensi positif akan menguatkan connection, sementara konsekuensi negatif akan melemahkannya. Belakangan teori ini disempurnakan dengan menambahkan bahwa konsekuensi negatif tidak selalu melemahkan connections. Pemikiran Thorndike tentang. Konsekuensi ini menjadi sumbangan penting bagi aliran behaviorisme karena ia memperkenalkan konsep reinforcement. Kelak konsep ini menjadi dasar teori para tokoh behaviorisme seperti Watson, Skinner, dan lain-lain.

4. Fungsionalisme

Menjadi dasar bagi behaviorisme melalui pengaruhnya pada tokoh utama behaviorisme, yaitu Watson. Watson adalah murid dari Angell dan menulis disertasinya di University of Chicago. Dasar pemikiran Watson yang memfokuskan diri lebih proses mental daripada elemen kesadaran, fokusnya perilaku nyata dan pengembangan bidang psikologi pada animal psychology dan child psychology adalah pengaruh dari fungsionalisme. Meskipun demikian, Watson menunjukkan kritik tajam pada fungsionalisme.

PRINSIP DASAR BEHAVIORISME

  • Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak
  • Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem untuk sciene, harus dihindari.
  • Penganjur utama adalah Watson : overt, observable behavior, adalah satu-satunya subyek yang sah dari ilmu psikologi yang benar.
  • Dalam perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh para behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan akhirnya pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson, dengan mengikutsertakan faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada overt behavior tetap terjadi.
  • Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi.
  • Banyak ahli (a.l. Lundin, 1991 dan Leahey, 1991) membagi behaviorisme ke dalam dua periode, yaitu behaviorisme awal dan yang lebih belakangan.

TOKOH-TOKOH

Watson

1. John Watson (1878-1958)

  • Setelah memperoleh gelar master dalam bidang bahasa (Latin dan Yunani), matematika, dan filsafat di tahun 1900, ia menempuh pendidikan di University of Chicago. Minat awalnya adalah pada filsafat, sebelum beralih ke psikologi karena pengaruh Angell. Akhirnya ia memutuskan menulis disertasi dalam bidang psikologi eksperimen dan melakukan studi-studi dengan tikus percobaan. Tahun 1903 ia menyelesaikan disertasinya. Tahun 1908 ia pindah ke John Hopkins University dan menjadi direktur lab psi di sana. Pada tahun 1912 ia menulis karya utamanya yang dikenal sebagai ‘behaviorist’s manifesto’, yaitu “Psychology as the Behaviorists Views it”.
  • Dalam karyanya ini Watson menetapkan dasar konsep utama dari aliran behaviorisme:
    • Psikologi adalah cabang eksperimental dari natural science. Posisinya setara dengan ilmu kimia dan fisika sehingga introspeksi tidak punya tempat di dalamnya
    • Sejauh ini psikologi gagal dalam usahanya membuktikan jati diri sebagai natural science. Salah satu halangannya adalah keputusan untuk menjadikan bidang kesadaran sebagai obyek psikologi. Oleh karenanya kesadaran/mind harus dihapus dari ruang lingkup psi.
    • Obyek studi psikologi yang sebenarnya adalah perilaku nyata.
  • Pandangan utama Watson:
  1. Psikologi mempelajari stimulus dan respons (S-R Psychology). Yang dimaksud dgn stimulus adalah semua obyek di lingkungan, termasuk juga perubahan jaringan dalam tubuh. Respon adalah apapun yang dilakukan sebagai jawaban terhadap stimulus, mulai dari tingkat sederhana hingga tingkat tinggi, juga termasuk pengeluaran kelenjar. Respon ada yang overt dan covert, learned dan unlearned
  2. Tidak mempercayai unsur herediter (keturunan) sebagai penentu perilaku. Perilaku manusia adalah hasil belajar sehingga unsur lingkungan sangat penting (lihat pandangannya yang sangat ekstrim menggambarkan hal ini pada Lundin, 1991 p. 173). Dengan demikian pandangan Watson bersifat deterministik, perilaku manusia ditentukan oleh faktor eksternal, bukan berdasarkan free will.
  3. Dalam kerangka mind-body, pandangan Watson sederhana saja. Baginya, mind mungkin saja ada, tetapi bukan sesuatu yang dipelajari ataupun akan dijelaskan melalui pendekatan ilmiah. Jadi bukan berarti bahwa Watson menolak mind secara total. Ia hanya mengakui body sebagai obyek studi ilmiah. Penolakan dari consciousness, soul atau mind ini adalah ciri utama behaviorisme dan kelak dipegang kuat oleh para tokoh aliran ini, meskipun dalam derajat yang berbeda-beda. [Pada titik ini sejarah psikologi mencatat pertama kalinya sejak jaman filsafat Yunani terjadi penolakan total terhadap konsep soul dan mind. Tidak heran bila pandangan ini di awal mendapat banyak reaksi keras, namun dengan berjalannya waktu behaviorisme justru menjadi populer.]
  4. Sejalan dengan fokusnya terhadap ilmu yang obyektif, maka psikologi harus menggunakan metode empiris. Dalam hal ini metode psikologi adalah observation, conditioning, testing, dan verbal reports.
  5. Secara bertahap Watson menolak konsep insting, mulai dari karakteristiknya sebagai refleks yang unlearned, hanya milik anak-anak yang tergantikan oleh habits, dan akhirnya ditolak sama sekali kecuali simple reflex seperti bersin, merangkak, dan lain-lain.
  6. Sebaliknya, konsep learning adalah sesuatu yang vital dalam pandangan Watson, juga bagi tokoh behaviorisme lainnya. Habits yang merupakan dasar perilaku adalah hasil belajar yang ditentukan oleh dua hukum utama, recency dan frequency. Watson mendukung conditioning respon Pavlov dan menolak law of effect dari Thorndike. Maka habits adalah proses conditioning yang kompleks. Ia menerapkannya pada percobaan phobia (subyek Albert). Kelak terbukti bahwa teori belajar dari Watson punya banyak kekurangan dan pandangannya yang menolak Thorndike salah.
  7. Pandangannya tentang memory membawanya pada pertentangan dengan William James. Menurut Watson apa yang diingat dan dilupakan ditentukan oleh seringnya sesuatu digunakan/dilakukan. Dengan kata lain, sejauhmana sesuatu dijadikan habits. Faktor yang menentukan adalah kebutuhan.
  8. Proses thinking and speech terkait erat. Thinking adalah subvocal talking. Artinya proses berpikir didasarkan pada keterampilan berbicara dan dapat disamakan dengan proses bicara yang ‘tidak terlihat’, masih dapat diidentifikasi melalui gerakan halus seperti gerak bibir atau gesture lainnya.
  9. Sumbangan utama Watson adalah ketegasan pendapatnya bahwa perilaku dapat dikontrol dan ada hukum yang mengaturnya. Jadi psikologi adlaah ilmu yang bertujuan meramalkan perilaku. Pandangan ini dipegang terus oleh banyak ahli dan diterapkan pada situasi praktis. Dengan penolakannya pada mind dan kesadaran, Watson juga membangkitkan kembali semangat obyektivitas dalam psikologi yang membuka jalan bagi riset-riset empiris pada eksperimen terkontrol.

Psikologi Belajar adalah :

Kajian imiah tentang proses belajar yg ditinjau dari segi jiwa dan tingkah laku manusia

Contoh kemampuan manusia dikaegorikan berdasarkan  :

  1. Hasil belajar (membaca, menulis)
  2. Bukan hasil belajar (kemampuan berjalan—bagaimana dia cara berjalan-hasil belajar—tertawa, menangis).

Pendekatan dlm psikologi belajar :

Behaviorisme

Pusat kajian adalah perlakuan yg bisa diamati, yg bisa diobservasi  atau diukur

Cognitivisme

Melibatkan pemerolehan dan mengorgansasikan kembali sturktur pengetahuan yg ada di manusia, melalui prose itu maka manusia menyimpan informasi itu.

Construktivisme

Construc (membangun) lebih menekankan pada kativitas, krn pengethuan itu harus dibangun oleh individu, hanya dg akivityas maka ia akan mepeoleh pengetahuan, pengetuan seeorang itu hasil dr pengelaman masa lalu, struktur mentalnya dan keyakinan dlm menafsikarkan benda dlm kejadian.

Humanisme

Pamahaman ini memiliki keunikan bahwa manusia dari segi iniividu

Konsep pekembangan kognisi :

Ketika anak ingin makan :

Enactive : icon (piring, sendok, dll)

Iconic  :

Symbolic : simbol kata2 utk menunjukkan anak mau makan

Strategi cognitif :

  • Active leaner
  • Problem solver
  • Critical thinker
  • Creative individual  (individual yg kreaif)

4 Aliran Filsafat Pengetahuan yang berpengaruh terhadap Psikologi Belajar :

Behaviorisme (1910 – 1950) : Menurut paham Tingkah Laku, belajar adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Para penganut paham ini yakin bahwa hasil belajar akan terlihat dari perubahan tingkah laku yang dapat diamati, atau diukur, dan perubahan ini terjadi sebagian besar karena lingkungan. Asumsi dasar dari perspektif Perilaku adalah bahwa semua mahluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui respon (Watson dalam Pannen, 2000).

Beberapa konsep yang mewakili paham Behaviorisme:

Classical Conditioning (Ivan Pavlov: 1849 –1936)

1) Sepotong daging diberikan kepada seekor anjing (UCS), anjing seketika meneteskan air liur (UCR)

2) Bel dibunyikan (CS), tidak ada reaksi apapun yang ditunjukkan oleh anjing percobaan

3) Sepotong daging (UCS) diikuti bunyi bel (CS) : anjing meneteskan air liur (UCR)

Langkah 2 diatas dilakukan berulang-ulang, sampai suatu saat ketika :

4) Bel berbunyi (CS) : anjing meneteskan air liur (CR).

Situasi yang kurang lebih sama bisa terjadi di sekolah, ketika siswa, melalui proses yang tidak mereka sadari, belajar menyukai atau membenci pelajaran tertentu (CR) karena adanya CS (Conditioned Stimulus) yang bisa berasal dari perilaku guru, situasi kelas yang tidak bersahabat (atau sebaliknya) atau hal-hal lain yang menyebabkan siswa menghubungkan satu kejadian dengan kejadian lain (associative learning) yang pada akhirnya membuat mereka memiliki sikap tertentu (suka atau benci) terhadap aktifitas belajar.

John B. Watson

Nama Watson lebih dikenal sebagai pendiri Gerakan Behaviorisme dalam bidang Psikologi di AS. Bukan saja Watson yang menciptakan istilah Behaviorisme, tetapi ia juga mengembangkan konsep dasarnya. Watson sangat terpengaruh oleh teori Pavlov, dan menerima model Pavlov, Classical Conditioning,  sebagai  penjelasan proses belajar. Menurut Watson, manusia dilahirkan dengan sejumlah refleks yang terbatas, -sedangkan belajar adalah hasil pengkondisian reflek-reflek tersebut. Oleh karena itu, menurut Watson, perbedaan kemampuan yang ada diantara manusia semata-mata disebabkan karena pengalaman (baca: pengkondisian) yang berbeda, karena pada awalnya manusia semua sama. Teori environmentalism  yang berkaitan dengan masalah IQ nampaknya berkembang dari proposisi Watson tersebut.

The Law of Effects (Edward L. Thorndike: 1874 – 1949)

Thorndike percaya bahwa pengaruh dari suatu response bisa menyebabkan apakah seseorang belajar atau tidak. Banyak percobaan yang dilakukannya melibatkan hewan yang mendapat ‘hadiah’ tertentu karena telah memberi respon yang diharapkan dan dilanjutkan dengan pengamatan, dampak apakah yang muncul atau perilaku apa yang muncul sebagai akibat dari hadiah yang diperoleh sebelumnya. Dalam suatu percobaan, misalnya, Thorndike (1911) mengurung seekor kucing yang lapar di dalam kurungan, dan mengantung sepotong ikan di luar kurungan tersebut.Untuk bisa melepaskan diri dari kurungan itu, maka kucing harus menarik seutas tali atau melakukan gerakan cerdik lainnya.

Dari percobaan yang dilakukannya Thorndike sampai pada suatu kesimpulan tentang belajar: bahwa respon yang terjadi sesaat sebelum keadaan yang menyenangkan cenderung akan diulang (belajar –à nilai baik/dipuji guru), sedangkan respon yang terjadi sebelum suatu kejadian yang tidak menyenangkan akan dihindari siswa karena mereka  tidak ingin merasakan dampak yang tidak menyenangkan tadi (tidak memperhatikan penjelasan guru/ tidak bisa menjawab pertanyaan –à nilai jelek/malu). Teori ini dinamakan the Law of Effect. Selain menggagas teori the law of Effect, Thorndike juga memperkenalkan teori the Law of Exercise dan the Law of Readiness. Dalam teori the Law of Exercise, Thorndike berpendapat bahwa upaya guru memberi latihan yang berulang-ulang dalam kegiatan pembelajaran akan membuat siswa terlatih dalam memberi respon yang tepat atau benar. Sedangkan dalam the Law of Readiness, siswa yang telah mendapat kesempatan untuk mempersiapkan diri diprediksi akan mampu memberikan respon yang benar dibandingkan dengan siswa yang tidak mempersiapkan dirinya terlebih dahulu.

Selain itu Thorndike juga dikenal dengan teori Trial and Error Learning nya yang pada intinya menyatakan bahwa ketika menghadapi situasi sulit dimana jalan keluarnya tidak diketahui, orang cenderung akan mencoba berbagai macam respon sampai ditemukan sebuah respon yang membawa efek yang menyenangkan..

Operant Conditioning (B.F. Skinner: 1904 – 1990)

Skinner mengembangkan teori Classical Conditioning Pavlov karena menurut Skinner, teori Pavlov hanya bisa menjelaskan proses belajar melalui interaksi stimulus dan respon yang sederhana saja. Untuk perilaku manusia yang kompleks, menurut Skinner, tentu diperlukan interaksi stimulus dan respon yang kompleks pula.

Dalam teorinya, Skinner mengatakan bahwa komponen belajar terdiri dari stimulus, penguatan (reinforcement) dan respon.

Positive reinforcement (Penguat Positif):  memperkuat perilaku yang diharapkan dengan jalan menghadirkan stimulus yang positif setelah perilaku tertentu terjadi. Misalnya, jika seorang siswa berhasil menjawab pertanyaan yang diajukan guru dengan benar, maka pujian yang diberikan guru sesaat setelah jawaban yang benar diberikan akan menyebabkan siswa berupaya memberi jawaban yang benar di kemudian hari.

Negative reinforcement (Penguat Negatif): dikatakan penguat negatif, karena dengan menghilangkan (atau tidak menghadirkan) suatu perlakuan tertentu, maka respon siswa jadi lebih baik. Misalnya, guru yang selalu melaksanakan tes atau quiz mendadak di kelas. Jika pada suatu ketika   kebiasaan quiz dadakan ini dihilangkan dan kemampuan yang ditunjukkan siswa sama bagusnya dengan ketika praktek tes mendadak biasa dilaksanakan, maka dalam hal ini tes mendadak tsb. dinamakan penguat negative.

Implikasi Behaviorisme terhadap proses belajar:

Penekanan proses belajar adalah pada ketrampilan, karena melalui ketrampilan yang ditunjukkan siswa maka guru bisa  meyakini bahwa siswa telah berhasil dalam proses belajar.

Dalam desain pembelajaran yang menggunakan prinsip behaviorisme, biasanya kurikulum dirancang dengan menyusun isi pengetahuan yang ingin dicapai menjadi bagian-bagian kecil, yang ditandai dengan suatu ketrampilan tertentu.Bagian-bagian ini disusun secara hirarkies, dari yang sederhana sampai ke yang kompleks.

Alasan mengapa sasaran belajar disusun dalam bagian yang terpisah dan bertingkat adalah untuk memudahkan pengukuran atau pembuktian bahwa proses belajar telah berhasil dilaksanakan yaitu dengan adanya bukti perilaku yang terukur tadi.

Taksonomi belajar Bloom, adalah contoh sasaran belajar yang bertahap dan, menunjukkan hirarkies dari yang sederhana (mengetahui) sampai ke yang kompleks (evaluasi).

Buat para penentangnya, paham behaviorisme ini dikritik karena tidak dapat menjelaskan bagaimana manusia (dan hewan) berperilaku di dalam lingkungan sosial dan alamiahnya dimana tidak terdapat stimulus khusus. Kritik juga diajukan oleh para ilmuwan syaraf yang meyakini bahwa telaah langsung pada otak manusia merupakan satu-satunya cara untuk memahami perilaku manusia. Dalam bidang proses belajar bahasa, teori Behaviorisme juga mendapat tantangan dari Noam Chomsky. Dikatakan oleh Chomsky, jika belajar adalah hasil proses stimulus dan respon yang diperoleh individu dari lingkungannya, bagaimana kita bisa menjelaskan proses berbahasa anak-anak usia 4-5 tahun yang mampu memproduksi ratusan kalimat dengan kombinasi kata-kata yang bahkan belum pernah digunakan sebelumnya? Menurut Chomsky, kemampuan berbahasa seperti ini menunjukkan bahwa manusia memang membawa kemampuan berbahasa sejak lahir (innate).

Contoh penerapan teori belajar Behaviorisme:

Direct Instruction/ Explicit Teaching: suatu metode penyampaian materi belajar dalam porsi yang bertahap dan sistematis. Antara satu topik dengan topik berikutnya akan ada jeda sejenak untuk memonitor pemahaman siswa (Rosenshine, 1986). Model ini juga dikenal dengan nama Model Transmisi (Transmission Model). Ada 6 fungsi pembelajaran yang diwujudkan dalam alur berikut ini:

  • Review harian
  • Penyajian materi baru
  • Praktek terbimbing
  • Koreksi dan umpan balik
  • Praktek mandiri
  • Review mingguan dan bulanan

Metode ini terbukti ampuh dalam pengajaran prosedur dan komputasi matematik, belajar membaca, membedakan fakta dari opini, fakta dan konsep ilmiah, fakta-fakta dan konsep ilmu sosial, keterampilan yang berkaitan dengan peta, dan kosa kata bahasa asing. Sebaliknya metode ini kurang berhasil jika digunakan untuk materi pembelajaran yang strukturnya kurang tegas, seperti belajar mengarang, pemahaman bacaan, analisa sastera atau trend sejarah.

Cognitivisme: Berbeda dengan paham Behaviorisme, paham cognitivisme lebih terfokus pada masalah atau pertanyaan yang berkenaan dengan kognisi, atau pengetahuan. Menurut para pendukung teori ini, belajar adalah suatu proses mental,  yang tidak  selalu harus bisa diamati, yang bisa juga diberi nama pemrosesan informasi. Perubahan tingkah laku yang terjadi adalah merupakan refleksi dari interaksi persepsi diri seseorang terhadap sesuatu yang diamati dan dipikirkannya. Menurut para pendukung teori kognitif, bagaimana teori behaviorisme bisa menjelaskan proses belajar yang terjadi pada beberapa siswa yang berbeda, dimana setelah mendapat stimulus yang sama mereka menghasilkan respon yang berbeda? Respon yang berbeda tersebut mestilah hasil dari kapasitas kognisi siswa yang berbeda. Mungkin mereka tidak memiliki motivasi yang sama, mungkin mereka menerapkan cara belajar yang berbeda, mungkin mereka memiliki background knowledge yang berbeda, atau mungkin cara pemecahan masalah yang mereka terapkan juga berbeda. Terdapat banyak kemungkinan yang bisa menyebabkan mengapa stimulus yang sama tidak menghasilkan respon yang sama.

Beberapa nama penting yang diasosiasikan dengan teori belajar kognitivisme:

Bruner: Teori Belajar Penemuan (Discovery Learning)

Suatu pendekatan dalam belajar dimana siswa berinteraksi dengan lingkungannya dengan jalan mengeksplor dan memanipulasi obyek, bergulat dengan sejumlah pertanyaan dan kontroversi atau melakukan percobaan. Ide dasar dari teori ini adalah, siswa akan mudah mengingat suatu konsep jika konsep tersebut mereka dapatkan sendiri melalui proses belajar penemuan (Prinsip belajar: selidiki/inquire dan temukan/discover). Bruner juga memperkenalkan  konsep perkembangan kognisi anak-anak yang mewakili tiga bentuk representasi: representasi enactive, iconic dan symbolic. Pada  tahap enactive misalnya, pengetahuan anak diperoleh dari aktivitas gerak yang dilakukannya seperti pengalaman langsung atau kegiatan konkrit. Tahap representasi iconic adalah masa ketika pengetahuan anak diperoleh melalui sajian gambar, atau grafis lainnya seperti film dan gambar statis. Sedangkan tahap representasi symbolic adalah suatu tahap dimana anak mampu memahami atau membangun pengetahuan melalui proses bernalar dengan menggunakan simbol bahasa seperti kata-kata atau simbolisasi abstrak lainnya.

Ausubel : Teori Belajar Bermakna (meaningful learning)

Ausubel berpendapat bahwa guru harus dapat mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses belajar yang bermakna.

Sama seperti Bruner dan Gagne, Ausubel beranggapan bahwa aktivitas belajar siswa, terutama mereka yang berada di tingkat pendidikan dasar- akan bermanfaat kalau mereka banyak dilibatkan dalam kegiatan langsung. Namun untuk siswa pada tingkat pendidikan lebih tinggi, maka kegiatan langsung akan menyita banyak waktu. Untuk mereka, menurut Ausubel, lebih efektif kalau guru menggunakan penjelasan, peta konsep, demonstrasi, diagram, dan ilustrasi.

Inti dari teori belajar bermakna Ausubel adalah proses belajar akan mendatangkan hasil atau bermakna kalau guru dalam menyajikan materi pelajaran yang baru dapat menghubungkannya dengan konsep yang relevan yang sudah ada dalam struktur kognisi siswa.

Langkah-langkah yang biasanya dilakukan guru untuk menerapkan belajar bermakna Ausubel adalah sebagai berikut: Advance organizer, Progressive differensial, integrative reconciliation, dan consolidation.

Advance organizer: Penyampaian awal tentang materi yang akan dipelajari siswa. Diharapkan siswa secara mental akan siap untuk menerima materi kalau mereka mengetahui sebelumnya materi apa yang akan disampaikan guru. Contoh: handout sebelum perkuliahan.

Progressive Differensial: Materi pelajaran yang disampaikan guru hendaknya bertahap. Diawali dengan hal-hal atau konsep yang umum, kemudian dilanjutkan ke hal-hal yang khusus, disertai dengan contoh-contoh.

Integrative reconciliation: Penjelasan yang diberikan oleh guru tentang kesamaan dan perbedaan  konsep-konsep yang telah mereka ketahui dengan konsep yang baru saja dipelajari.

Consolidation: Pemantapan materi dalam bentuk menghadirkan lebih banyak contoh atau latihan sehingga siswa bisa lebih paham dan selanjutnya siap menerima materi baru.

Robert Gagne: Model Pemrosesan Informasi (information processing model)

Gagne berpendapat bahwa proses belajar  adalah suatu proses dimana siswa terlibat dalam aktivitas yang memungkinkan mereka memiliki kemampuan yang tidak dimiliki sebelumnya. Ada delapan tingkat kemampuan belajar menurut Gagne, dimana kemampuan belajar pada tingkat tertentu ditentukan oleh kemampuan belajar di tingkat sebelumnya.

8 Tingkat Belajar gagne:

  1. Signal Learning: dari signal yang dilihat/didengarnya, anak akan memberi respon tertentu. Misalnya ketika melihat seseorang membawa mainan (signal), seorang anak menunjukkan ekspresi gembira.
  2. Stimulus-response learning: Seorang anak yang memberikan respon fisik atau vokal setelah mendapat stimulus tertentu. Contoh: Proses awal belajar bahasa dimana anak-anak mengikuti bunyi kata-kata yang dicontohkan orang dewasa.
  3. Chaining: Kemampuan anak untuk menggabungkan dua atau lebih hasil belajar stimulus-respon yang sederhana. Chaining terbatas hanya pada serangkaian gerak (bukan serangkaian produk bahasa lisan). Contoh: lari, membuka pintu, dsbnya.
  4. Verbal association: Bentuk penggabungan hasil belajar yang melibatkan unit bahasa seperti memberi nama sebuah obyek/benda.
  5. Multiple discrimination: Kemampuan siswa untuk menghubungkan beberapa kemampuan chaining sebelumnya. Misalnya menyebutkan nama-nama siswa yang ada di kelas. Mampu membedakan bermacam bentuk benda, cair, padat dan gas.
  6. Concept learning: Belajar konsep artinya anak mampu memberi respon terhadap stimulus yang hadir melalui karakteristik abstraknya. Contoh, siswa diperkenalkan dengan konsep kotak. Melalui pemahaman konsep kotak ini, siswa mampu mengidentifikasi benda lain, rumah atau gerbong kereta api misalnya, yang berbeda ukuran, warna, maupun materinya, namun masih memiliki karakteristik kotak.
  7. Principle learning: Kemampuan siswa untuk menghubungkan satu konsep dengan konsep lainnya. Contoh: hubungan antara diameter dengan keliling suatu lingkaran.
  8. Problem solving: Dalam tingkat ini, siswa mampu menerapkan prinsip-prinsip yang telah dipelajari untuk mencapai satu sasaran. Problem solving menurut Gagne adalah tipe belajar yang paling tinggi. Siswa yang mampu menyelesaikan suatu permasalahan melalui serangkaian langkah problem solving diyakini juga menguasai ke tujuh kemampuan belajar di bawahnya.

Jean Piaget (1896 – 1980) :  Cognitive Development Model

Menurut Piaget ada empat tahapan perkembangan kognisi         manusia :

  1. Tingkat Sensorimotor (0-2 tahun).

Anak mulai belajar dan mengendalikan lingkungan melalui kemampuan panca indera dan gerakannya. Perilaku bayi pada tahap ini semata-mata berdasarkan pada stimulus yang diterimanya. Sekitar usia 8 bulan bayi memiliki pengetahuan object permanence, yaitu walaupun sebuah object pada suatu saat tidak terlihat di depan matanya, tidak berarti obyek tersebut tidak ada. Sebelum usia 8 bulan bayi pada umumnya beranggapan bahwa benda yang tidak mereka lihat berarti tidak ada. Example: Peekaboo game for babies. Pada tahap ini bayi memaknai dunianya berdasarkan pengamatannya atas gerakan/aktivitas yang dilakukan orang-orang disekelilingnya. Misalnya melihat ibu mempersiapkan perlengkapan makannya, bayi mengetahui bahwa ia sebentar lagi akan diberi makan.

2. Tahap Preoperational (2 – 7 tahun)

Anak-anak pada tahap ini sudah mampu berfikir sebelum bertindak, meskipun kemampuan berfikirnya belum sampai pada tingkat kemampuan berfikir logis. Masa 2 – 7 tahun kehidupan anak juga ditandai dengan sikap egocentris, dimana mereka berfikir subyektif dan tidak mampu melihat obyektifitas pandangan orang lain, sehingga mereka sukar menerima pandangan orang lain.

Ciri lain dari anak yang perkembangan kognisinya ada pada tahap preoperational adalah ketidakmampuannya membedakan bahwa 2 obyek yang sama memiliki masa, jumlah, atau volume yang tetap walaupun bentuknya berubah-ubah. Contoh, clay ball, string of beads, same amount of water in two different containers. Karena belum mampu berfikir abstrak, maka anak-anak di usia ini lebih mudah  belajar jika guru melibatkan pengunaan benda yang konkrit daripada menggunakan hanya kata-kata saja. Contoh: dalam pelajaran berhitung, misalnya, penggunaan benda nyata (batang korek api, koin, dsbnya) lebih memudahkan pemahaman anak.

3. Tahap Concrete Operations (7 – 11 Tahun)

Pada tahap ini pada umumnya anak-anak sudah memiliki kemampuan memahami konsep konservasi (concept of conservacy), yaitu meskipun suatu benda berubah bentuknya, namun masa, jumlah atau volumenya adalah tetap. Anak juga sudah mampu melakukan observasi, menilai dan mengevaluasi sehingga mereka tidak se- egosentris sebelumnya. Kemampuan berfikir anak pada tahap ini masih dalam bentuk konkrit, mereka belum mampu berfikir abstrak, sehingga mereka juga hanya mampu menyelesaikan soal-soal pelajaran yang bersifat konkrit. Aktifitas pembelajaran yang melibatkan siswa dalam pengalaman langsung sangat efektif dibandingkan dengan penjelasan guru dalam bentuk verbal (kata-kata). Contoh, dalam pelajaran IPS, misalnya,  siswa akan lebih mudah memahami konsep arah mata angin/kompas barat, timur, utara dan selatan jika guru membawa peta atau bola dunia ke dalam kelas daripada menjelaskan  bahwa pulau Kalimantan terletak di sebelah utara pulau Jawa.

4.  Tahap Formal Operations (11 Tahun  ke atas)

Pada tahap ini kemampuan siswa sudah berada pada tahap berfikir abstrak. Mereka mampu mengajukan hipotesa, menghitung konsekuensi yang mungkin terjadi serta menguji hipotesa yang mereka buat. Kalau dihadapkan pada suatu persoalan, siswa pada tahap perkembangan formal operational mampu memformulasikan semua kemungkinan dan menentukan kemungkinan yang mana yang paling mungkin terjadi berdasarkan kemampuan berfikir analitis dan logis.

Pada mulanya Piaget beranggapan bahwa pada usia sekitar 15 tahun hampir semua remaja akan mencapai tahap perkembangan formal operation ini. Namun kenyataan membuktikan bahwa banyak siswa SMU – bahkan sebagian orang dewasa sekali pun- tidak memiliki kemampuan berfikir dalam tingkat ini.

Implikasi teori kognitivisme terhadap proses belajar :

Untuk meningkat kemampuan berfikir siswa, dan membantu siswa menjadi pembelajar yang sukses, maka pengajar yang menganut paham kognitivisme banyak melibatkan siswa dalam kegiatan dimana faktor motivasi, kemampuan problem solving, strategi belajar, memory retention skill sering ditekankan.

Konstruktivisme :

Menurut paham konstruktivisme, pengetahuan yang kita miliki adalah hasil konstruksi (bentukan) kita sendiri (Von Glaserfeld, 1996). Seseorang yang belajar akan membentuk pengertian, ia tidak hanya meniru atau mencerminkan apa yang diajarkan atau yang ia baca, melainkan menciptakan pengertian baik secara personal maupun sosial (Resnick, 1983; Bettencourt, 1989). Pengetahuan tsb. dibentuk melalui interaksi dengan lingkungannya.

Agar dapat mengerti sesuatu yang dipelajari, maka pembelajar harus bisa  membangun (mengkonstruksi) konsep yang dipelajari dengan jalan menemukan, mengorganisir, menyimpan, mengemukakan dan memikirkan konsep atau kejadian tertentu dalam suatu proses yang aktif dan konstruksif. Melalui proses pembentukan konsep yang terus menerus maka pengertian bisa dibangun (Bettencourt, 1989).

Implikasi konstruktivisme terhadap proses belajar:

Berdasarkan prinsip bahwa :”dalam belajar seseorang harus mengkonstruksi sendiri pengetahuannya” maka guru hendaknya mengusahakan agar murid aktif berpartisipasi dalam membangun/mengkonstruksi pengetahuannya.

Ada 2 pertanyaan yang perlu dicermati guru: 1) Pengalaman –pengalaman apa yang harus disediakan bagi para siswa supaya dapat memperlancar proses belajar, dan 2) Bagaimana pembelajar dapat mengungkapkan/ menyajikan apa yang telah mereka ketahui untuk memberi arti pada pengalaman-pengalaman itu (Tobin, Tippin, & Gallard, 1994).

Model pembelajaran yang menggambarkan prinsip konstruktivis: kesempatan yang luas bagi siswa untuk mengungkapkan gagasan dan pemikirannya, siswa dibantu untuk lebih berfikir dan merefleksikan pengetahuan mereka dalam kegiatan seperti: diskusi kelompok, debat, menulis paper, membuat laporan penelitian di majalah, berdiskusi dengan para ahli, meneliti di lapangan, mengungkapkan pertanyaan dan sanggahan terhadap apa yang disampaikan guru, dll.

Humanisme

Humanisme adalah suatu pendekatan dalam filsafat pendidikan yang bertujuan mengembangkan sikap, perasaan dan kemampuan belajar mandiri pada siswanya. Penganut pandangan Humanisme lebih menekankan pada peran sekolah dalam membentuk domain affektif siswa, mengajar siswa bagaimana cara belajar dan meningkatkan kreativitas dan potensi manusia. Pendekatan humanis sangat populer di Amerika Serikat di awal 1970 an. Dalam salah satu prakteknya, terdapat sebuah sekolah di Inggris yang menerapkan cara mengajar siswa yang tidak memberi pelajaran membaca sampai siswa meminta sendiri untuk diajar membaca.

Keleluasaan untuk memilih apa yang akan dipelajari dan kapan dan bagaimana mereka akan mempelajarinya yang merupakan ciri utama pendekatan humanisme bertujuan untuk membantu siswa menjadi self-directed serta self-motivated learner. Penganut paham ini yakin bahwa siswa akan bersedia melakukan banyak hal apabila mereka memiliki motivasi yang tinggi dan mereka diberi kesempatan untuk menentukan apa yang mereka inginkan. Ciri lain dari pendekatan humanisme adalah mereka menghindari pemberian nilai, tes standard atau evaluasi formal lainnya.

Berikut ini adalah nilai-nilai penting yang ditumbuhkembangkan dalam pendidikan humanisme:

  • Kejujuran (tidak menyontek, tidak merusak, bisa dipercaya),
  • Menghargai hak orang lain (menerima dan menghormati perbedaan individu yang ada, mau mendengarkan orang lain, menolong orang lain, bisa berempati terhadap problem orang lain),
  • Menjaga lingkungan (menghemat penggunakan listrik, gas, kayu, logam, kertas, dll.; menjaga barang milik sendiri ataupun milik orang lain),
  • Perilaku (mau berbagi, menolong orang lain, ramah terhadap orang lain, berlaku pantas didepan public),
  • Kebiasaan di sekolah (tepat waktu, mematuhi aturan, rajin, menerima kepemimpinan orang lain, menghargai pendidikan, memperhatikan peraturan keamanan);
  • Perkembangan pribadi (menjalankan tanggung jawab, menghargai kesehatan dan kebersihan fisik, mengembangkan bakat yang dimiliki secara optimal, mengembangkan rasa hormat dan rasa banga terhadap diri sendiri, mengontrol perilaku, memiliki sikap berani, terhormat dan patriotic, mengharagai keindahan).

======== =====Semoga Bermanfaat===================

3 Tanggapan to “Behaviorisme”

  1. mobil88 said

    Ehm….tulisan Anda dalam blog ini menurut http://mobil88.wordpress.com sangat menarik….
    Bagi-bagi tipsnya donk….hehehehe🙂

  2. dhelezeph said

    halo Hen, apa kabar?
    tulisanmu bagus banget…. boleh tau sumbernya darimana? sangat bermutu… salut….🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: