Pendidikan

Sukseskan Kalimantan Timur CEMERLANG 2013

Tantangan Pendidikan di Era Globalisasi Ekonomi

Posted by henypratiwi pada 22 Mei 2013

Era pasar bebas, atau yang biasa disebut dengan era globalisasi sering didengungkan oleh para pemerhati ekonomi sejak beberapa dekade lalu hingga sekarang ini. Kata “globalisasi” secara populer dapat diartikan  menyebarnya segala sesuatu secara sangat cepat  ke seluruh dunia.

Robertson dalam Globalization: Social Theory and Global Culture (London, Sage: 1992) mendefinisikan globalisasi sebagai “the compression of the world into a single space and the intensification of conciousness the world as a whole”. Globalisasi juga melahirkan global culture (which) is encompassing the world at the international level.

Globalisasi sebagai sebuah proses mempunyai sejarah yang panjang. Globalisasi meniscayakan terjadinya perdagangan bebas dan  dinilai menjadi ajang kreasi dan perluasan bagi pertumbuhan perdagangan dunia, serta  pembangunan dengan sistem pengetahuan. Hal ini berarti bahwa terjadinya perubahan sosial yang mengubah pola komunikasi, teknologi, produksi dan konsumsi serta peningkatan paham internasionalisme merupakan sebuah nilai budaya.

Terjadinya era globalisasi memberi dampak ganda; dampak yang menguntungkan dan dampak yang merugikan. Dampak yang menguntungkan adalah memberi kesempatan kerjasama yang seluas-luasnya kepada negara-negara asing. Tetapi di sisi lain, jika kita tidak mampu bersaing dengan mereka, karena sumber daya manusia (SDM) yang lemah, maka konsekuensinya akan merugikan bangsa kita.

Oleh karena itu, tantangan kita pada masa yang akan datang ialah meningkatkan daya saing dan keunggulan kompetitif di semua sektor, baik sektor riil maupun moneter, dengan mengandalkan pada kemampuan SDM, teknologi, dan manajemen tanpa mengurangi keunggulan komparatif yang telah dimiliki bangsa kita.

Terjadinya perdagangan bebas harus dimanfaatkan oleh semua pihak dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk aspek pendidikan, di mana pendidikan diharuskan mampu menghadapi perubahan yang cepat dan sangat besar dalam tentangan pasar bebas, dengan melahirkan manusia-manusia yang berdaya saing tinggi dan tangguh. Sebab diyakini, daya saing yang tinggi inilah agaknya yang akan menentukan tingkat kemajuan, efisiensi dan kualitas bangsa untuk dapat memenangi persaingan era pasar bebas yang ketat tersebut.

SDM yang tangguh, menurut Muslimin Nasution (1998), adalah SDM yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi  (IPTEK). Tugas pendidikan, selain mempersiapkan  sumber daya manusia sebagai subjek perdagangan bebas, juga membina penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang nyatanya sangat berperan dalam membantu dunia usaha dalam upaya meningkatkan perekonomian nasional.

 

A. Karakteristik Era Globalisasi

Era globalisasi akan ditandai dengan persaingan ekonomi secara hebat berbarengan dengan terjadinya revolusi teknologi informasi, teknologi komunikasi, dan teknologi industri. Persaingan ini masih dikuasai oleh tuga raksasa ekonomi yaitu Jepang dari kawasan Asia, Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Masing-masing menampilkan keunggulan yang dimiliki. Amerika misalnya unggul dalam product technology, yaitu teknologi yang menghasilkan barang-barang baru dengan tingkat teknologi yang  tinggi, contoh pembuatan pesawat terbang supersonik, robot, dan lain-lain.

Jerman dan Jepang mengandalkan kelebihan mereka dalam process technology yaitu teknologi yang menghasilkan proses baru dalam pembuatan suatu jenis produk yang sudah ada, misalnya CD (compact disc) pertama kali dibuat oleh Belanda kemudian terus disempurnakan oleh Jepang sehingga menghasilkan CD dengan kualitas yang lebih bagus dan harga lebih murah. Selain ketiganya, belakangan muncul Cina sebagai kekuatan baru ekonomi dunia dengan pertumbuhan ekonominya di atas 9 persen –suatu jumlah tertinggi di dunia.

Kompetisi ekonomi pada era pasar bebas juga ditandai dengan adanya perjalanan lalu lintas barang, jasa, modal serta tenaga kerja yang berlangsung secara bebas, kemudian adanya tuntutan teknologi produksi yang makin lama makin tinggi tingkatannya, sehingga makin tinggi pula tingkat pendidikan yang dituntut dari para pekerjanya.

Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, kemajuan teknologi komunikasi menyebabkan tidak adanya jarak dan batasan antara satu orang dengan orang lain, kelompok satu dengan kelompok lain, serta antara negara satu dengan negara lain. Komunikasi  antar-negara berlangsung sangat cepat dan mudah. Begitu juga perkembangan informasi lintas dunia dapat dengan mudah diakses melalui teknologi informasi  seperti melalui internet. Perpindahan uang dan investasi modal oleh pengusaha asing dapat diakukan dalam hitungan detik.

Kondisi kemajuan teknologi informasi dan industri di atas yang berlangsung dengan amat cepat dan ketat di era globalisasi menuntut setiap negara untuk berbenah diri dalam menghadapi persaingan tersebut. Bangsa yang yang mampu membenahi dirinya dengan meningkatkan sumber daya manusianya, kemungkinan besar akan mampu bersaing dalam kompetisi sehat tersebut.

Di sinilah pendidikan — termasuk pendidikan Islam — diharuskan menampilkan dirinya, apakah ia mampu mendidik dan menghasilkan para siswa yang berdaya saing tinggi (qualified) atau justru mandul dalam menghadapi gempuran berbagai kemajuan dinamika globalisasi tersebut.

Dengan demikian, era globalisasi adalah tantangan besar bagi dunia pendidikan. Dalam konteks ini, Khaerudin Kurniawan (1999), memerinci berbagai tantangan pendidikan menghadapi ufuk globalisasi.

Pertama, tantangan untuk meningkatkan nilai tambah, yaitu bagaimana meningkatkan produktivitas kerja nasional serta pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, sebagai upaya untuk memelihara dan meningkatkan pembangunan berkelanjutan (continuing development ).

Kedua, tantangan untuk melakukan riset secara komprehensif terhadap terjadinya era reformasi dan transformasi struktur masyarakat, dari masyarakat tradisional-agraris ke masyarakat modern-industrial dan informasi-komunikasi, serta bagaimana implikasinya bagi peningkatan dan pengembangan kualitas kehidupan SDM.

Ketiga, tantangan dalam persaingan global yang semakin ketat, yaitu meningkatkan daya saing bangsa dalam menghasilkan karya-karya kreatif yang berkualitas sebagai hasil pemikiran, penemuan dan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.

Keempat, tantangan terhadap munculnya invasi dan kolonialisme baru di bidang Iptek, yang menggantikan invasi dan kolonialisme di bidang politik dan ekonomi.

Semua tantangan tersebut menuntut adanya SDM yang berkualitas dan berdaya saing di bidang-bidang tersebut secara komprehensif dan komparatif yang berwawasan keunggulan, keahlian profesional, berpandangan jauh ke depan (visioner), rasa percaya diri dan harga diri yang tinggi serta memiliki keterampilan yang memadai sesuai kebutuhan dan daya tawar pasar.

Kemampuan-kemampuan itu harus dapat diwujudkan dalam proses pendidikan Islam yang berkualitas, sehingga dapat menghasilkan lulusan yang berwawasan luas, unggul dan profesional, yang akhirnya dapat menjadi teladan yang dicita-citakan untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.

Pertanyaan selanjutnya, apakah yang harus dilakukan oleh dunia pendidikan Islam? Untuk menjawabnya, agaknya kita perlu menengok kerangka pendidikan Islam dalam konteks kenasionalan. Sehingga kita bisa menyiapkan strategi yang tepat menghadapi sebuah tantangan sekaligus peluang tersebut.

Secara kuantitas, perkembangan jumlah peserta didik pendidikan formal Indonesia mulai dari tingkat TK hingga jenjang perguruan tinggi (PT) mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Namun secara kualitas masih tertinggal jauh ketimbang negara-negara lain, baik negara-negara maju, maupun negara-negara anggota ASEAN sekalipun.

Institusi pendidikan Islam dituntut mampu menjamin kualitas lulusannya sesuai dengan standar kompetensi global –paling tidak mampu mempersiapkan anak didiknya terjun bersaing dengan para tenaga kerja asing– sehingga bisa mengantisipasi membludaknya pengangguran terdidik. Di sini harus diakui, lembaga-lembaga pendidikan Islam ternyata belum siap  menghadapi era pasar bebas. Masih banyak yang harus dibenahi;  apakah sistemnya ataukah orang yang terlibat di dalam sistem tersebut.

 

 

B. Sumber-sumber Kelemahan Bersaing Pendidikan

Pemerintah, sebagai pemegang kebijakan pendidikan seharusnya memberikan sumbangan yang besar dalam mensukseskan program pendidikan.   Sebab di antara kelemahan-kelemahan sistem pendidikan di Indonesia adalah karena lemahnya politcal will pemerintah dalam menangani permasalahan pendidikan ini.

Menurut Arief Rahman (2002), setidaknya ada sembilan titik lemah dalam aplikasi sistem pendidikan di Indonesia:

1.      Titik berat pendidikan pada aspek kognitif

2.      Pola evaluasi yang meninggalkan pola pikir kreatif, imajinatif, dan inovatif

3.      Sistem pendidikan yang bergeser (tereduksi) ke pengajaran

4.      Kurangnya pembinaan minat belajar pada siswa

5.      Kultur mengejar gelar (title) atau budaya mengejar kertas (ijazah).

6.      Praktik dan teori kurang berimbang

7.      Tidak melibatkan semua stake holder, masyarakat, institusi pendidikan, dan pemerintah

8.      Profesi guru/ustadz sekedar profesi ilmiah, bukan kemanusiaan

9.      Problem nasional yang multidimensional dan lemahnya political will pemerintah.

Untuk mengantisipasi berbagai kelemahan pendidikan tersebut, diperlukan kerjasama pelbagai pihak. Tidak hanya institusi pendidikan tetapi pemerintah juga harus serius dalam menangani permasalahan ini agar SDM Indonesia memperoleh rating kualitas pendidikan yang memadai. Untuk itu hendaknya dilakukan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, orientasi pendidikan harus lebih ditekankan kepada aspek afektif dan psiko motorik. Artinya, pendidikan lebih menitikberatkan pada pembentukan karakter peserta didik dan pembekalan keterampilan atau skill, agar setelah lulus mereka tidak mengalami kesulitan dalam  mencari pekerjaan daripada hanya sekadar mengandalkan aspek kognitif (pengetahuan).

Kedua, dalam proses belajar mengajar guru harus mengembangkan pola student oriented sehingga terbentuk karakter kemandirian, tanggung jawab, kreatif dan inovatif pada diri peserta didik.

Ketiga, guru harus benar-benar memahami makna pendidikan dalam arti sebenarnya. Tidak mereduksi sebatas pengajaran belaka. Artinya, proses pembelajaran peserta didik bertujuan untuk membentuk kepribadian dan mendewasakan siswa bukan hanya sekedar transfer of knowledge  tapi pembelajaran harus meliputi transfer of value and skill, serta pembentukan karakter (caracter building).

Keempat, perlunya pembinaan dan pelatihan-pelatihan tentang peningkatan motivasi belajar kepada peserta didik sehingga anak akan memiliki minat belajar yang tinggi.

Kelima, harus ditanamkan pola pendidikan yang berorientasi proses (process oriented), di mana proses lebih penting daripada hasil. Pendidikan harus berjalan di atas rel ilmu pengetahuan yang substantif. Oleh karena itu, budaya pada dunia pendidikan yang berorientasi hasil (formalitas), seperti mengejar gelar atau titel di kalangan praktisi pendidikan dan pendidik hendaknya ditinggalkan. Yang harus dikedepankan dalam pembelajaran kita sekarang adalah penguasaan pengetahuan, kadar intelektualitas, dan  kompetensi keilmuan dan keahlian yang dimilikinya.

Keenam, sistem pembelajaran pada sekolah kejuruan mungkin   bisa diterapkan pada sekolah-sekolah umum. Yaitu dengan menyeimbangkan antara  teori dengan praktek dalam implementasinya. Sehingga peserta didik tidak mengalami titik kejenuhan berfikir, dan siap manakala dituntut mengaplikasikan pengetahuannya dalam masyarakat dan dunia kerja.

Ketujuh, perlunya dukungan dan partisipasi komprehensif terhadap praktek pendidikan, dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan terhadap dunia pendidikan terutama masyarakat sekitar sekolah, sehingga memudahkan akses pendidikan secara lebih luas ke kalangan masyarakat.

Kedelapan, profesi guru seharusnya bersifat ilmiah dan benar-benar “profesional”, bukan berdasarkan kemanusiaan. Maksudnya, guru memang pahlawan tanpa tanda jasa namun guru juga seyogianya dihargai setimpal dengan perjuangannya, karena itu gaji dan kesejahteraan guru harus diperhatikan pemerintah.

Kesembilan, pemerintah harus memiliki formula kebijakan dan konsistensi untuk mengakomodasi semua kebutuhan pendidikan. Salah  satunya adalah memperhatikan fasilitas pendidikan dengan cara menaikan anggaran untuk pendidikan minimal 20-25 % dari total APBN. Di sini diperlukan political will kuat dari pemerintah dalam menangani kebijakan pendidikan.

Jika kita mau jujur, berbagai kelemahan pendidikan kita seperti disebutkan di atas, pada dasarnya bertitik tolak pada lemahnya sumber daya manusia (SDM) yang ada. Padahal, SDM merupakan faktor utama yang menjadi indikator kemajuan suatu bangsa, di samping faktor sumber daya alam (SDA) (hayati, non hayati, buatan), serta sumber daya ilmu pengetahuan dan teknologi. Keberhasilan negara-negara Barat adalah didukung oleh peningkatan   kualitas sumber daya manusia, dan hal itu berhubungan dengan pendidikan sebagai wahana pembentukan SDM.

Jadi, permasalahan lemahnya SDM Indonesia pada dasarnya berawal dari rendahnya  tingkat pendidikan, lemahnya keahlian dan manajemen serta kurangnya penguasaan teknologi. Lemahnya SDM menyebabkan Indonesia kurang  mampu bersaing dengan negara-negara lain, padahal secara fisiografis Indonesia termasuk negara yang memiliki kekayaan alam melimpah tetapi sayangnya tidak dikelola dengan baik karena kualitas SDM-nya yang kurang mendukung.

Sistem pendidikan sangat bergantung pada mutunya, seperti juga halnya barang dikatakan berkualitas dan mempunyai nilai jual yang tinggi karena memiliki mutu yang bagus. Ironis memang jika kita melihat nasib institusi pendidikan di Indonesia berdasarkan mutu pendidikan  yang berada pada urutan terakhir di antara 12 negara Asia yang diteliti oleh The Political and Eonomic Risk Consultancy  (PERC) tahun 2001, jauh di bawh Vietnam (6).

Hasil survei PERC itu mengacu pada tingkat kualitas lulusan pendidikan kita, dengan argumentasi, untuk mendapatkan tenaga kerja berkualitas tentunya sistem pendidikannya pun harus berkualitas.

Sistem pendidikan yang tidak berkualitas mempengaruhi rendahnya SDM yang dihasilkan, yang pada gilirannya tidak mampu membawa bangsa ini “duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi” dengan bangsa lain.

Lemahnya SDM pendidikan sebagai ekses sistem pendidikan yang tidak berkualitas, memunculkan fenomena masyarakat pekerja (worker society) bak jamur di musim hujan. Ini tentu berbeda dengan sistem pendidikan yang baik, yang memproduksi employee society.

Dalam konteks ini,  Alvin Toffler dalam buku The Future Shock (1972) mengatakan,  employee dan worker itu berbeda. (1) employee memiliki ciri untuk terus meningkatkan kemampuan teknis termasuk keterampilannya, sedangkan worker menggunakan keterampilan dan pengetahuan yang tetap; (2) employee dapat mengendalikan alat (mesin), sedangkan worker relatif dikendalikan oleh mesin; (3) mesin berkhidmat kepada employee, sedangkan worker berkhidmat kepada mesin; (4) employee pada dasarnya tidak perlu diawasi hanya perlu pembagian tanggung jawab, sedangkan worker harus diawasi melalui garis organisasi; dan (5) employee memiliki sarana produksi yaitu  informasi, sedangkan worker tidak memilikinya.

Oleh karena itu, orientasi employee society harus dikedepankan dalam rangka mempersiapkan tenaga kerja ahli di bidang penguasaan teknologi. Karena pada milenium ketiga ini kita dihadapkan pada perubahan besar di bidang ekonomi, Iptek dan sosial budaya.

Kita seharusnya belajar dari Jepang dan Korea Selatan. Walaupun kedua negara tersebut miskin sumber daya alam (SDA), tetapi karena dukungan SDM yang kuat, kedua negara Asia Timur itu menjadi pioneer ekonomi dunia, khususnya di kawasan Asia.

Dalam konteks ini, masyarakat Jepang menurut H.D. Sudjana (2000)  memiliki lima karakteristik khusus dalam sikap dan prilaku yang dipandang sebagai akar kekuatan bangsanya, yaitu:

Pertama, emulasi. Yaitu hasrat dan upaya untuk menyamai atau melebihi orang lain. Orang Jepang, baik selaku perorangan atau sebagai warga negara memiliki dorongan untuk tidak ketinggalan oleh orang, kelompok, atau bangsa lain.

Kedua, consensus. Yaitu kebiasaan masyarakat Jepang untuk berkompromi, bukan konfrontasi. Budaya kompromi ini menimbulkan rasa keterlibatan masyarakat yang kuat terhadap kepentingan bersama. Budaya inilah yang menjadi pengikat kuat yang menjadi pengikat dasar (root bindting) kehidupan masyarakat Jepang.

Ketiga, futurism. Yaitu mempeunyai pandangan jauh ke depan, masyarakat Jepang mempunyai keyakinan bahwa harkat individu akan naik apabila seluruh kelompok atau bangsa naik. Oleh karena itu kemajuan dan keberhasilan kelompok, masyarakat dan bangsa sangat diutamakan dalam upaya meningkatkan kemajuan individu.

Keempat, kualitas. Mutu  adalah jaminan kualitas. Artinya dalam setiap proses dan hasil produksi di Jepang, mutu menjadi faktor penarik (full factors).

Kelima, kompetisi. Artinya sumber daya manusia dan produk bangsa Jepang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif dalam tata kehidupan dan tata ekonomi global.

 

C. Pendidikan dan Kemampuan Bersaing Bangsa

Kemampuan bersaing pendidikan kita menghadapi era globalisasi ini sangat lemah dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal ini disebabkan karena masih lemahnya sumber daya manusia (SDM) yang ada.

Sebagai contoh kita bisa melihat Tenaga kerja Indonesia (TKI) maupun TKW yang “diekspor” adalah tenaga buruh,  seperti: pembantu rumah tangga, perawat, buruh perkebunan, buruh bangunan, sopir dan pekerja kasar lainnya. Sedangkan tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia adalah kalangan pengusaha, investor dan pemilik perusahaan. Pekerja kita amat minim penguasaan pengetahuannya serta rendah kemampuan bahasa asingnya, terutama Bahasa Inggris.

Untuk melacak akar kelemahan SDM Indonesia ini bisa dilihat melalui wahana pendidikan. Dari sini secara logis dimunculkan pemikiran, untuk dapat bersaing dengan bangsa lain dalam memperebutkan lapangan kerja, maka yang harus dibenahi terlebih dahulu adalah sector pendidikan.

Pendidikan harus benar-benar diberdayakan oleh kita semua, sehingga nantinya, pendidikanlah yang akan mampu memberdayakan masyarakat secara luas. Masyarakat yang terberdayakan oleh sistem pendidikan memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif dalam konteks persaingan global.

Konsekuensinya, pendidikan harus dikonseptualisasikan sebagai suatu usaha dan proses pemberdayaan, yang benar-benar harus disadari secara kolektif, baik oleh individu, keluarga, masyarakat, lebih-lebih oleh pemerintah  sebagai investasi masa depan bangsa.

Dengan demikian, pendidikan memegang peranan penting dan strategis dalam menghasilkan SDM yang akan membangun bangsa ini. Sikap ini tidak berarti mengecilkan peran sektor lain dalam pembangunan bangsa. Adanya sikap bahwa masa depan akan selalu penting dan strategis ini didasari oleh pertimbangan empirik bahwa selama ini dan juga untuk waktu yang akan datang, keberadaan sumberdaya manusia yang bermutu dalam arti seluas-luasnya akan semakin dibutuhkan bagi pembangunan bangsa.

Kualitas SDM yang diiringi moralitas dan integritas kebangsaan yang kuat: tidak korup, jujur, kreatif, antisipatif dan memiliki visi ke depan diasumsikan akan mempercepat bangsa ini keluar dari krisis yang berlarut-larut. Sebagai perbandingan, dengan dukungan sumber daya manusia yang kuat, negara-negara jiran kita seperti Malaysia, Thailand dan Filipina mengalami kemajuan pesat dalam upaya keluar dari krisis seperti yang dialami bangsa kita. Bahkan untuk kasus Malaysia, negara ini mampu memulihkan (recovey) kondisi  ekonominya tanpa perlu mengandalkan bantuan IMF.

Selanjutnya, dalam sektor ekonomi, perkembangan perekonomian nasional, regional dan internasional yang begitu pesat seperti pasar modal, bursa efek, AFTA, NAFTA, APEC dan kesepakatan-kesepakatan ekonomi internasional yang lain, saat ini dan ke depan, semua itu akan menjadi kebutuhan bangsa kita.

Tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, juga akan mengalami pergeseran. Perilaku individualistik akan tumbuh lebih subur daripada rasa kebersamaan. Sementara itu, kehidupan demokratis akan lebih diterima masyarakat ketimbang perilaku yang otoriter. Perilaku egaliter secara vertikal dan horizontal akan lebih menonjol dibanding yang feodal dan paternalistik.

Keterbukaan (transparancy) akan diterima masyarakat. Di sisi lain, semangat nasionalisme dan kesemestaan harus dapat membawa kemajuan bangsa. Janganlah alasan nasionalisme menjadikan bangsa tidak bisa maju dan berkembang. Sebaliknya, semangat kesemestaan tidak dijadikan alasan bangsa ini tercabik dan terinveksi oleh virus globalisasi.

Semua itu, sekali lagi, memerlukan peran signifikan dan antisipasi pendidikan, apakah pendidikan kita mampu mengakomodasi dan memberikan solusi dalam upaya memajukan dan memenangkan kompetisi global yang keras dan ketat, ataukah justru terbelenggu dan asik dalam lingkaran globalisasi.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Qur`an al-Karim

Abdullah, Abdurrahman Salih, Educational Theory Qur’anic Theory (Mekkah: Ummul Qura University, tt).

Abd. Al-Baqi, Muhammad Fuad, Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaz al-Qur`an al-Karim (Beirut : Dar al-Fikr,1987).

Abdul Hakim, Atang & Jaih Mubarak, Metodologi Studi Islam, Bandung: Rosda, 2001.

Abrasy, Muhammad Athiyah al, Al-Tarbiyah al-Islamiyah (Kairo: Maktabah Isa al-Babi al-Halabi, 1975).

Al-Baghdadi, Abi al-Fadhal Syihabuddin al-Sayyid Mahmud al-Alusi, Ruh Ma’ani fi Tafsir al-Qur`an al-‘Azim wa al-sab’u al-Matsani, juz XI (Lebanon : Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1994).

‘Ali, Hasan Abd. al, Al-Tarbiyah al-Islamiyah fi al-Qarn al-Rabi’al-Hijryi (TT: Dar al-Fikr al-‘Araby,tt)

Ali, D.P . Sati, (selanjutnya disebut Siti, pen)., capita selecta, ed.W.van Hoeve (Jakarta:PT. Bulan Bintang, 1954)

Al-Qurthubi, Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshari, Tafsir al-Maraghi, Juz VII (Mesir : Mathba’ah al-babi al-Halâby, tt).

Al-Zuhaili, Wahbah, Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj, juz XXI (Damsyiq : Dar al-Fikr al-Ma’ashir,1991).

Azim, Ali Abdul, Ensiklopedi dan Aksiologi Ilmu Perspektif al-Qur`an (Bandung : Rosda, 1989).

Arief, Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Ciputat: Ciputat Press, 2002.

——–, Pendidikan Integralistik; Pemikiran dan Pergerakan Mohammad Natsir dalam Pendidikan, naskah buku belum diterbitkan.

Arifin, Muzayin, Kapita Selekta Pendidikan (Umum dan Agama), Toha Putra, Semarang, 1981

Asari, Hasan. Menyingkap Zaman Keemasan Islam, (Bandung: Mizan, 1994).

Aziz, M. Amin, “Islamisasi sebagai Isu”, Ulumul Qur’an, Volume II, No. 4. 1992

Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modrnisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: Logos, 1999.

———, Paradigma Baru Pendidikan Nasional; Rekonstruksi dan Demokratisasi, Jakarta: Kompas, 2002.

———, Pendidikan Tinggi Islam dan Kemajuan Sains, dalam Charles Michael Stanton, Pendidikan Tinggi dalam Islam (Jakarta: Logos, 1994)

Bagir, Haidar dan Zainal Abidin, “Filsafat Sains Islami: Kenyataan atau Khayalan?” kata pengantar dalam Mahdi Ghulsyani, Filsafat Sains Menurut al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1990

Bakar, Osman, Hierarki Ilmu: Membangun Rangka-Pikir Islamisasi Ilmu, Bandung: Mizan, 1998, cet. Ke-3.

Bakker, A.H., Metode-metode Filsafat, (Yogyakarta: Yayasan Pembinaan Fakultas Filsafat, t.t.)

Dalizar, Konsepsi Al-Qur’an tentang Hak-hak Asasi manusia, Pustaka Al-Husna, Jakarta, 1987

Dasuki, H.A. Hafizh, Ensiklopedi Islam (Jakarta: Ikhtiar Van Hoeur, Cet.III, 1999), jilid IV.

Daud, Wan, Wan Mohd Nor, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, Bandung: Mizan, 2003.

Daradjat, Zakiah, Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1987

———, Kumpulan Materi LMD dan SII, YPM Salman, ITB, Bandung, 1987

———, Himpunan Peraturan Perundang-undangan tentang Pendidikan Tinggi, Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Jakarta, 1991

Djakfar, Muhammad, Islamisasi Pengetahuan; dari Tataran Ide ke Praksis, dalam buku Quo Vadis Pendidikan Islam (ed.) Mudjia Rahardjo, Malang: Cendekia Paramulya, 2002.

Deming, Edward W., Out of The Crisis, Cambridge: Cambridge Univercity, 1973

Departemen Pendidikan Nasional, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, Buku 1 Konsep dan Pelaksanaan, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Sekolah lanjutan tingkat Pertama, 2001

Dewey, John,  Democracy and Education, Encyclopedia Americana, 1979

Faruqi, Ismail Raji al, Islamisasi Pengetahuan, (terj.) oleh Anas Mahyuddin dari Islamization of Knowledge, Bandung: Pustaka, 1984.

Freire, Paulo,  Pendidikan Kaum Tertindas,  terj. Pedagogy of the Oppressed, Jakarta: LP3ES, 2000, ceet. Ke-3

———-, et.al., Menggugat Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999, cet. Ke-2

Geertz, Clifford, “Modernization in A Moslem Society: The Indonesia Case”, da’am Quest, vol. 39 (Bombay: 1963). Hadi S, Qamarul, Membangun Insan Seutuhnya, Al-Ma’arif, Bandung, 1986

Hamka, Tafsir al-Azhar, Juz XXI (Jakarta : Pustaka al-Islam, 1982)

Hasanuddin, AH., Cakrawala Kuliah Agama, Al-Ikhlas, Surabaya, 1980

Halimuddin, Kembali Kepada akidah Islam, Rineka Cipta, 1988

Hossein Nasr, Syed, Islam dan Nestapa Manusia Modern, terj. Anas Mahyuddin, Bandung: Mizan, 1983

———-, Islam dan Nestapa Manusia Modern, Pustaka, Bandung, 1983

———-, Mulla Sadra: His Teachings, dalam Syed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (ed), History of Islamic Philosophy, London: Routledge, 1996

———-, dan William C. Chittick, Islam  Intelektual Teologi: Filsafat dan Ma’rifat, terj. Tim Perenial, Depok: Perenial Press, 2001.

———, Science And Civilization In Islam, (Cambridge: Harvard University press, 1968).

Ikhrom, Dikhotomi Sistem Pendidikan Islam; Upaya menangkap Sebab-sebab dan Penyelesaiannya, dalam buku Paradigma Pendidikan Islam (ed.) Ismail SM., et.al., Yogyakarta: Pustaka Pelahar, 2001.

Ilich, Ivan, Bebaskan Masyarakat Dari Belenggu Sekolah, terj. Deschooling Society, Jakarta: Yayasan Obor, 2000, ed. Ke-1, cet. Ke-2

Imron, Ali,j Kebijakan Pendidikan di Indonesia, Proses, Produk, dan Masa Depannya, Bumi Aksara, Jakarta, 1996.

J. Drost, Pengajaran Kita, Kompas, 7 Agustus 2001.

Jenie, Umar A., Paradigma dan Religiositas Perkembangan Iptek, dalam buku Religiusitas Iptek, Yogyakarta: 1998, cet.  Ke-1.

Langgulung, Hasan, Peralihan Paradigma dalam Pendidikan Islam dan Sains Sosial, Jakarta: Gama Media Pratama, 2002.

———, Falsafah Pendidikan Islam (Jakarta : Bulan Bintang, 1979)

Kartanegara, Mulyadhi, “Reintegrasi Ilmu Pengetahuan Mungkinkah Itu?”, Makalah dari Seminar Nasional Reintegrasi Ilmu oleh Fak Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tgl 19 Okt 2002

Kurniawan, Khaerudin, “Arah Pendidikan Nasional Memasuki Milenium Ketiga”, Suara Pembaharuan, Januari 1999.

Mc Clelland, David C, The Achieving Society, The Mcmillan Company, 1961

Makdisi, George. The Rise of Colleges (Edinburgh : Edinburgh University Press, 1981).

Marimba, Ahmad  D., Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Al-Ma’arif, 1980

M.Natsir, Pendidikan Pengorbanan ke Pemikiran Primondialisme dan Nostalgia, (Jakarta: Media Dakwah, 1978)

Mursy, Ahmad Munir. Al-Tarbiyah al-Islamiyah Ushuluha wa Tathawwuruha. (Kairo: Maktabah Dar al-‘Alami, 1986)

Muthahhari, Murtadha, Mengenal Epistemologi, terj. Muhammad Jawad Bafaqih, Jakarta: Lentera Basritama, 2001

Muhaimin, Redefinisi Islamisasi Pengetahuan; Upaya Menjejaki Model-model Pengembangannya, dalam buku Quo Vadiss Pendidikan Islam (ed.) Mudjia Rahardjo, Malang: Cendekia Paramulya, 2002.

Mulkhan, Abdul Munir, Rekosntruksi Pendidikan Islam dalam Peradaban Industrial, dalam buku Pendidikan Islam dalam Peradaban Industrial, Yogyakarta: Aditya Media, 1997

Muhadjir, Noeng, Filsafat Ilmu: Positivisme, Post Positivisme, dan Post Modernisme, Yogyakarta: Rakesarasin, 2001

Munawwir, Ahmad Warson, Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap (Yogyakarta : Pondok Pesantren al-Munawwir, 1984).

Muzani, Saiful (ed.) Pembangunan dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara, Jakarta: LP3ES, 1993.

Naim, Mochtar, Mohammad Natsir dan Konsep Pendidikan yang Integral, dalam Anwar Harjono (pen), Pemikiran dan Perjuangan Mohammad Natsir, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996.

——–, Pemikiran dan Perjuangan Mohammad Natsir, makalah dalam seminar “Pemikiran Mohammad Natsir”, Yisc Al-Azhar Jakarta, 16-17 Juli 1994

Nakosteen, Mehdi. Kontribusi Islam and Civilization in Islam (Cambridge: Harvard University Press, 1968)

Naquib Al-Attas, Syed Muhamad, Konsep Pendidikan dalam Islam, Mizan, Bandung: 1987

Nasution, S, Sosiologi Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta, 1995

Nata, Abuddin, Tema-Tema Pokok al-Qur`an (Jakarta : Biro Mental DKI, 1993)

Poerbakawatja, Soegarda, dan A.H. harahap, Ensiklopedi Pendidikan, Gunung Agung, Jakarta, 1980

Puar, Yusuf Abdullah, Mohammad Natsir 70 Tahun,  Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan, (Jakarta: Pustaka Antara, 1976), cet. ke-I

S.I. Poeradisastra,  “Epistemologi di dalam Islam“, di dalam Salemba No. 70 Tahun IV, Juli 1979.

Qamarul Hadi, S., Membangun Insan Seutuhnya, Al-Ma’arif, Bandung, 1986.

Rahardjo, Mudjia, Islamisasi Ilmu Pengetahuan Sosiologi Islam sebagai Sebuah Tawaran, dalam buku Quo vadis Pendidikan Islam,  (ed.) Mudjia Rahardjo, Malang: Cendekia Paramulya, 2002.

Rahardjo, M. Dawam, Intelektual Intelegensia dan Perilaku Politik Bangsa: Risalah Cendikiawan Muslim, Mizan, Bandung: 1996

———, “Dunia Pesantren dalam Peta Pembaharuan” dalam M. Dawam Rahardjo (ed.), Pesantren dan Pembaharuan, (Jakarta: LP3ES, 1995), cet. ke-5.

Rachman, Arief, Kualitas Pendidikan Harus Dimaksimalkan, Media Indonesia, 30 Mei 2002

Rahman, Budy Munawar, ed., Kontektualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah, Paramadina, Jakarta: 1995

Rahman, Fazlur, “Islamisasi Ilmu, Sebuah Respon”, Ulumul Qur’an Vol. III No. 4 1992.

Ramayulis, Studi Tentang Konsep Pendidikan Mohammad Natsir (Batusangkar: Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Batusangkar, 1979)

Rasjidi, Muhammad, Empat Kuliah Agama Islam pada Perguruan Tinggi, Bulan Bintang: Jakarta, 1974

Salam, Solihin, Wajah Nasional (Jakarta: Pusat Studi dan Penelitian Islam, 1990)

Sardar, Ziauddin, Jihad Intelektual Merumuskan Parameter-parameter Sains Islam, terj. AE Priyono, Surabaya: Risalah Gusti, 2000

Shihab, M. Quraish, Secercah Cahaya Ilahi: Hidup bersama Al-Qur`an, Mizan, Bandung: 2000

———, Membumikan Al-Qur`an, Mizan, Bandung: 2000

Suardi, Rudi, Sistem Manajemen Mutu ISO 9000-2000; Penerapannya untuk Mencapai TQM, Jakarta: PPM & Rosdakarya, 2001

Sudjana, HD., Manajemen Program Pendidikan, Bandung: Falah Production, 2000

Sumadilaga, H.R. Syarief, dkk., Pengembangan Sumber daya Manusia, Materi Qur`ani dan Metodenya, Simposium Nasional Cendikiawan Muslim, Jakarta: 1990, tidak diterbitkan

Syadid, Muhammad, Manhaj al-Qur`an fi al-tarbiyah (Beirut : Muassasah al-Risalah, 1987).

Syalabi, Ahmad. Al-Tarbiyah al-Islamiyah (Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyah, 1982)

Stanton, Charles Michael, Pendidikan Tinggi dalam Islam (Jakarta: Logos, 1994).

Suwito, Pendidikan yang Memberdayakan, Makalah Pengukuhan Guru Besar di Bidang Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam, Januari 2002.

Tilaar, H.A.R., Kajian Kritis Sistem Pendidikan Nasional, Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional  “Mencari Paradigma Baru Pendidikan Nasional Memasuki Milenium III dalam HUT PGRI di Jogjakarta.

Tim  Penyusun Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1995

Toffler, Alvin, The Future Shock, terj. Hermawan Sulistyo, Jakarta: Pantja Simpati, 1992

UU No. 2 Tahun 1989 tentang Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional.

UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

van Bruinessen, Martin, “Konjungtur Sosial Politik di Jagat NU Paska Khittah 26: Pergulatan NU Dekade 90-an”, dalam Ellyasa K.H. Darwis (ed.), Gus Dur, NU, dan Masyarakat Sipil, (Yogyakarta: LKiS, 1994), cet. ke-1.

Wahid, Marzuki, “Pesantren di Lautan Pembangunanisme: Mencari Kinerja Pemberdayaan”, dalam Marzuki Wahid, et.al (ed.) Pesantren Masa Depan: Wacana Pemberdayaan dan Transformasi (Bandung: Pustaka Hidayah, 1999), cet. ke-1.

Walgito, Bimo, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, Andi Offset, Yogyakarta, 1989.

Wan Daud, Wan Mohd Nor, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, Bandung: Mizan, 2003.

Weber, Mark, The Protestan Ethic and Spirit Capitalism, Simon dan Schuster, New York, 1980.

Yunus, Mahmud, Pokok-Pokok Pendidikan dan Pengajaran (Jakarta : Hidakarya Agung, 1978).

2 Tanggapan to “Tantangan Pendidikan di Era Globalisasi Ekonomi”

  1. purwatiwidiastuti said

    ini salah satu penyebab moral bangsa begitu rendah yaa

  2. henypratiwi said

    Iya bu, semoga semakin banyak pihak yg peduli dengan pendidikan sehingga bisa meningkatkan sedikit moral bangsa yang “hampir” carut marut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: